Tulisan ini ‘nggak’ berat kok, hanya bualan, dan butuh 2-3 menit/tergantung pembaca untuk membaca.
Aku sadar perbedaan itu pasti ada, jangankan masalah kehidupan dengan sudut pandang dan background masing2, masalah agamapun bisa ada perbedaan. Itulah manusia yang dikaruniai akal dan pikiran dan juga nafsu yang sangat-sangat tergantung situasi dan kondisi. Yang pada akhirnya akan melahirkan suatu kebudayaan dilingkunganya. Siapa yang punya pengaruh terbesar maka ia akan menang dan diikuti banyak orang.
Hal ini (perbedaan) akan lebih terlihat ketika kita keluar dari lingkungan kita, tidak lupa dengan tatap memandag hal tersebut dengan sudut pandang kita. Dan aku sendiri baru menyadari hal ini ketika mengalami hal demikian. Dengan landasan pengetahuan yang aku pelajari dan aku amalkan aku berkesimpulan carakulah yang paling benar™, hal ini semakin menjadi ketika aku terpaksa harus belajar di tempat yang sangat2 bertentangan dengan pemahamanku. Anehnya lagi waktu itu aku belajar di dua tempat yang sangat bertentangan juga. Lucu sekali, ketika aku harus bersandiwara untuk menyesuaikan diri (biasa minoritas). Tapi dengan tetap positif mengklaim bahwa tidak ada yang paling benar, dan untuk hal ini aku harus sadar dan berpegang teguh pada keyakinan yang aku percayai. Mungkin aku tidak perlu memberikan contoh, karena kita sudah terbiasa dgn perbedaan itu. Sudahlah, semoga pengalaman waktu itu bisa menjadi pengalaman dan pengetahuan.
Dan hal ini masih aku rasakan ketika aku duduk dibangku kuliah, benar kata orang ketika memasuki jenjang ini maka kita akan disuguhkan 2 hal yang bisa memberikan efek positif dan negatif, yaitu ideologi dan pergaulan. Karena aku pikir di sini sesuai dgn anak2 sok idealis yang sedang mencari jatidirinya. Nah, biasa sebagai pendatang tentunya kita dipaksakan untuk berkenalan dengan hal ini. Di sana kita mengenal teman2 yang katanya semua agama itu sama, ada lagi semua hal di semesta ini bisa benar tergantung dari sudut mana si pengamat melihat, dan lain-lain, pokoknya yang identik dengan debat, aliran, filsafat, atau apalah yang bila diteruskan hal ini tidak akan ada habisnya, parahnya kalo sampai sesorang itu bisa bisa bertindak aneh2 karena fahamnya itu. Ngeri . Karena itu tadi yang aku singgung pertama. Nah lagi2 jangankan sampai lingkup antar, di (dalam hal ini) islam sendiri ada banyak versi yang menterjemahkan sumber-sumber hukum. Pastinya penganut aliran ini akan merekrut dan mengajak sebanyak2nya pengikut yang mereka angggap sesat. Seperti yang aku pelajari bahwa dakwah itu selain untuk yang yang buta dan ada pula untuk yang beda dengan kita (pencerahan) alias tdk sealiran.
Untuk masalah ini, bukanya aku acuh tak acuh (lagi2 membala diri) tapi aku lebih tertarik untuk melihat dari sudut pandang lain. Dengan bekal ‘aku tak tau apa2 yang masih awam’ sepertinya lebih ‘aman‘. Tapi jangan asal ngikut2 tapi ga’ ngerti konsepnya (ini yang bikin org males). The follower. apa itu namanya bitngah apa tu?. Tapi bagi yang mau berkecimpung ya silahken tapi harus serius dan jangan lupa bener harus banyak referensi agar hasilnya akurat. Apaan sih?.
Eh, tapi kalo yang ini termasuk ga’ ya? tadi sore di asrama ini aku bareng sama anak yang sholatnya aneh juga, jadi ketika terlambat dia langsung nyusul sampai bilangan rakaa’tnya sama dengan imam, lain waktu adalagi yang pas sholat hpnya bunyi, eh diambil tuh hp, liat2, pencet tombol, trus masukin lagi. Jangan salah ya? mereka itu termasuk anak2 yang cerdas lohada lagi yg seneng jadi imam tajwidnya aja kurang bener eh bacaanya lamaaa benget, suratnya panjaaang2 banget, mending kalo rukun2nya yg lain ga’ dilama2in juga, padahal waktu sepertinya para jamaah bukan termasuk orangyang nyantai alias dalam perjalanan, ato keburu apalah, kalo mau cukup kan 3 bacaan shlwt udah tuma’ninah.
Nah, ini nih kalo anak malas, hal seperti ini malah jadi pelarian untuk males berjamaah. Eh, tapi ternyata aku tidak sendiri lho, temen2 ada juga yang bilang “hati kami harus mantap kalo sholat, di sini sering aneh2, mending sholat/jamaah di kamar aja”.
Yah, inilah sebagian kecil fenomena dilingkunganku. Semoga perbedaan itu... akan menjadi rahmat, ya setidaknya lama kelamaat akan menjadi rahmat. Rahmat kan luas. Rahmat sekarang kemana ya?